MATARAM — Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah XIV Mataram menyelenggarakan Diskusi Ilmiah Lintas Disipliner sekaligus Pembinaan Kelembagaan dan Ketenagaan menuju Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) Berdampak, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Universitas Islam Al-Azhar Mataram tersebut menghadirkan Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H. Sahiron, M.A., sebagai narasumber.
Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WITA dan diikuti oleh perwakilan PTKIS di bawah koordinasi Kopertais Wilayah XIV Mataram. Masing-masing perguruan tinggi diberikan kesempatan mengutus maksimal dua orang peserta. Institut Agama Islam (IAI) Al-Manan NU Lombok Timur menjadi salah satu PTKIS yang hadir dalam kegiatan tersebut dengan mengutus Dekan Fakultas Syariah, Muhammad Iplih, M.Pd.
Dalam pemaparannya, Prof. Sahiron menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia di lingkungan PTKIS, khususnya dalam mendorong dosen untuk mengurus dan meningkatkan jabatan fungsional akademik. Menurutnya, peningkatan jenjang akademik dosen merupakan salah satu bagian penting dalam membangun perguruan tinggi yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat.
Ia secara khusus mengingatkan para pimpinan perguruan tinggi dan dosen agar tidak mengabaikan pengurusan jabatan fungsional, terutama jenjang Lektor Kepala dan Guru Besar. Menurut Prof. Sahiron, dosen PTKIS memiliki peluang yang cukup terbuka untuk mengembangkan karier akademiknya selama memenuhi persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan.
Prof. Sahiron juga menjelaskan bahwa secara birokrasi, proses pengajuan jabatan fungsional bagi dosen PTKIS relatif lebih sederhana dibandingkan dengan mekanisme yang berlaku bagi dosen berstatus PNS. Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi swasta untuk lebih serius memberikan pendampingan dan fasilitasi kepada para dosen dalam pengembangan karier akademiknya.
Selain persoalan jabatan fungsional dan penguatan kelembagaan, diskusi juga menyoroti pentingnya integrasi keilmuan di lingkungan perguruan tinggi Islam. Prof. Sahiron mengajak PTKIS untuk tidak memandang ilmu agama dan ilmu umum sebagai dua bidang yang berjalan secara terpisah.
Untuk menggambarkan pentingnya integrasi tersebut, Prof. Sahiron membagikan pengalaman ketika menempuh pendidikan di luar negeri. Ia menemukan bahwa para mahasiswa yang berasal dari lingkungan non-Muslim, termasuk mereka yang tidak beragama, tetap mempelajari pemikiran dan kontribusi ilmuwan Muslim dalam bidang keilmuan tertentu.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah Ibnu Sina. Pemikir dan ilmuwan Muslim tersebut dikenal luas karena kontribusinya dalam bidang kedokteran. Menurut Prof. Sahiron, terdapat ironi ketika para mahasiswa di luar negeri mempelajari warisan keilmuan Ibnu Sina, sementara perguruan tinggi Islam di Indonesia belum sepenuhnya menjadikan khazanah keilmuan para ilmuwan Muslim sebagai bagian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Perguruan tinggi Islam harus mulai menyadari pentingnya integrasi keilmuan,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam diskusi tersebut.
Menurutnya, tradisi integrasi keilmuan sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam sejarah Islam. Para ilmuwan Muslim pada masa lalu telah mengembangkan berbagai bidang ilmu secara terpadu. Karena itu, perguruan tinggi Islam saat ini perlu kembali menghidupkan tradisi tersebut dengan mengembangkan ilmu pengetahuan yang tetap memiliki basis akademik sekaligus tidak tercerabut dari khazanah intelektual Islam.
Prof. Sahiron juga memberikan contoh bagaimana kajian keislaman dapat dikembangkan dengan pendekatan lintas disiplin. Salah satunya berkaitan dengan penelitian mengenai fitnah dalam karya tafsir al-Tabari. Kajian semacam itu menunjukkan bahwa khazanah keislaman dapat terus dikembangkan melalui pendekatan ilmiah yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu.
Diskusi ilmiah lintas disipliner tersebut menjadi momentum bagi PTKIS di bawah Kopertais Wilayah XIV Mataram untuk melakukan refleksi sekaligus menyusun langkah strategis dalam penguatan kelembagaan, ketenagaan, pengembangan karier dosen, serta peningkatan kualitas akademik.
Kehadiran perwakilan IAI Al-Manan NU Lombok Timur dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia, sekaligus mendorong terwujudnya perguruan tinggi Islam yang tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, Kopertais Wilayah XIV Mataram menegaskan pentingnya kolaborasi, peningkatan kualitas dosen, penguatan jabatan fungsional, serta pengembangan integrasi keilmuan sebagai bagian dari ikhtiar menuju PTKIS yang semakin maju, berkualitas, dan berdampak.